Belum cukup waktuku untuk melihat banyak tempat ϑî dunia ini. Ada
keluarga, pekerjaan, dan hal-hal lain yang harus kudahulukan.. Masih ada
waktu, nantinya..
Belum cukup aku memberikan kasih dan perhatian bagi anak-anakku dan
suamiku.. Setiap hari harus dicurahkan, dengan senyum dan kesabaran..
Belum cukup kuberikan kebahagiaan pada orang tuaku.. Terutama
mengingat kelakuanku yang mungkin sering mengecewakan mereka selama
ini..
Belum cukup perbuatan baik yang kusampaikan kepada orang lain, tanpa melihat siapa mereka. Aku masih pamrih.
Belum cukup aku memperbaiki diri. Segala kesombongan dan semua yang tidak baik yang kusadari ada dalam diriku.
Belum cukup aku menyisihkan waktu bagi orang-orang yang membutuhkanku. Aku cenderung sibuk dengan urusanku sendiri.
Belum cukup aku bersyukur pada Tuhan yang selalu melimpahkan rahmat
berlimpah dalam hidupku. Aku sering tidak menyadarinya. Dan selalu
merasa belum cukup.
Tuhan, ajarkan aku untuk menyelesaikan masalahku dengan si "BELUM
CUKUP" ini. Dan ingatkan aku bahwa Engkaulah yang men"CUKUP"kan
kehidupanku, completely. Amin.
Tanjungpinang, 8 Februari 2012
Adalah keinginan setiap orang untuk memberikan masa depan yang cerah buat anak-anaknya. Maka disinilah aku ingin meninggalkan jejak kebaikan, kenangan dan usahaku bagi masa depan anak-anakku, Letha, Sammy dan Pascal.
Rabu, 19 Agustus 2015
Renungan Hari Ibu 22 Desember 2012
Menerima pesan melalui bbm dari seorang teman dimasa SD ku dulu. Cukup
membuatku berpikir dan semakin yakin dg apa yg sedang kulakukan sekarang
ini. Yg sedang kuusahakan, adalah untuk memenuhi kebutuhan anak2ku.
Kebutuhan akan pendidikan ϑî rumah, perhatian dr mamanya, kasih sayang
24 jam. Tidak hanya bbrp jam sebelum dan sepulang kantor. Tidak hanya
bbrp jam bermain, itupun dg sisa2 tenagaku krn aku sudah capek kerka
seharian ϑî kantor.
Doakan mama ya Letha, Sammy, supaya usaha mama semakin berkembang, dan bisa mendampingi kalian terus ϑî rumah.
Teman2 mau tau pesan yg saya terima?
Ini dia:
Ibu Ainun Habibie :
"Mengapa saya tidak bekerja?
Bukankah saya dokter? Memang.
Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu.
Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yg barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya
tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri ? Anak saya akan tidak memiliki ibu.
Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi
tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun- tahun kami bertiga hidup begitu."
Jangan biarkan Anak² mu hanya bersama pengasuh mereka.
Bagaimana bila dibantu pengasuhan dengan kakek neneknya?
~ Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai berumah tangga.
Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh beribadah sepanjang waktu di hari tuanya.
Mudah2an ini bisa jadi penyemangat dan jawaban utk ibu-ibu berijazah yang rela berkorban demi keluarga & anak2nya.
Karena ingin Rumah Tangganya tetap terjaga & anak2 bisa tumbuh dgn penuh perhatian, tdk hanya dalam hal akademik, tp jg utk mendidik agamanya, karena itulah sejatinya peran orangtua.
Belajar dari kesuksesan orang2 hebat, selalu ada pengorbanan dari orang2 yang berada dibelakangnya, yang mungkin namanya tidak pernah tertulis dalam sejarah.
Berbanggalah Engkau sang Ibu Rumah Tangga, karena itulah pekerjaan seorang wanita yg paling mulia...
Selamat Hari Ibu.
Doakan mama ya Letha, Sammy, supaya usaha mama semakin berkembang, dan bisa mendampingi kalian terus ϑî rumah.
Teman2 mau tau pesan yg saya terima?
Ini dia:
Ibu Ainun Habibie :
"Mengapa saya tidak bekerja?
Bukankah saya dokter? Memang.
Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu.
Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yg barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya
tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri ? Anak saya akan tidak memiliki ibu.
Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi
tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun- tahun kami bertiga hidup begitu."
Jangan biarkan Anak² mu hanya bersama pengasuh mereka.
Bagaimana bila dibantu pengasuhan dengan kakek neneknya?
~ Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai berumah tangga.
Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh beribadah sepanjang waktu di hari tuanya.
Mudah2an ini bisa jadi penyemangat dan jawaban utk ibu-ibu berijazah yang rela berkorban demi keluarga & anak2nya.
Karena ingin Rumah Tangganya tetap terjaga & anak2 bisa tumbuh dgn penuh perhatian, tdk hanya dalam hal akademik, tp jg utk mendidik agamanya, karena itulah sejatinya peran orangtua.
Belajar dari kesuksesan orang2 hebat, selalu ada pengorbanan dari orang2 yang berada dibelakangnya, yang mungkin namanya tidak pernah tertulis dalam sejarah.
Berbanggalah Engkau sang Ibu Rumah Tangga, karena itulah pekerjaan seorang wanita yg paling mulia...
Selamat Hari Ibu.
Langganan:
Postingan (Atom)