Siang ini tanpa sengaja aku sudah membuat Letha menangis dua kali. Tanganku yg menerima pesan kemarahan dari otakku, menjentik daun telinganya, hanya karena dia menakut-nakuti Pascal, adik bungsunya. Pascal yang ketakutan berlari sambil teriak hampir menabrak dinding di depan kamar kami. Sedihnya Letha, langsung menangis. Walah..
Dalam tangisnya yang berkepanjangan dia bercerita bahwa tadi di sekolah dia diejek teman-temannya, "kak Ros". Tadi sebelum masuk kelas beberapa temannya mengejeknya, Letha menangis sedih sekali diejek begitu. Dia tidak tau apa yang menyebabkan dia diejek seperti itu. Saat kutanya siapa yang menghiburmya, sambil terisak dia berkata dia dihibur oleh Adyva, Gabriel dan Charity, sahabat-sahabatnya.
Ingatanku kembali ke masa kecilku dulu. Desy kecil sangat suka membaca majalah Donal Bebek. Kadang ke sekolah pun membawa majalah itu. Ditambah lagi nama Desi merupakan salah satu tokoh yang ada di majalah tersebut, maka jadilah si Desy kecil dipanggil si Bebek. Sama halnya dengan Letha, Desy pada awalnya tidak menyukai panggilan itu, ada rasa kesal, gak suka dipanggil Bebek. Bebek yang makan cacing, suaranya cempreng, maen di becek-becek.. Iihhh... Entah bagaimana prosesnya sehungga aku bisa menerima panggilan itu, sudah lupa. Tapi ternyata sampai setua ini pun aku masih dipanggil Bebek oleh teman-teman masa kecil dulu. Nama panggilan itu malah menjadikan aku mudah dikenali, alias nama beken. Terutamanya sih karena sebenarnya cukup banyak orang bernama Desi. Dengan adanya tambahan nama panggilan Bebek, oo sudah pasti maksudnya Desy yang suka baca Donal Bebek. Hahahha asyik kan.. Hayo apa kamu pun punya nama panggilan pemberian temanmu?
Kembali ke kasusnya Letha tadi. Sambil melap air matanya dan meminta maaf, aku menjelaskan siapa sih tokoh Kak Ros itu.
"Kak Ros yang di dalam film Upin Ipin digambarkan sebagai kakak yang pandai berbahasa Inggris. Sama dengan Letha. Ya kan? Dia punya sahabat pena di luar negeri. Kalau punya sahabat diluar negeri tentu menulis surat dalam bahasa Inggris kan? Berarti Kak Ros pintar." Letha mengangguk, mendengarkan dan mulai tenang.
"Kak Ros juga pandai menggambar dan membuat komik yang rutin dimuat di surat kabar Malaysia. Ada banyak anak yang bisa menggambar, tapi belum tentu semua bisa seperti Kak Ros yang bisa menghasilkan uang dari keterampilannya membuat komik. Letha juga suka menggambar kan? Teruslah menggambar nak, kembangkan hobi dan bakatmu. Oke mbak Letha? " Sudah bisa tersenyum, Letha memelukku.
"Ada satu lagi, Kak Ros pandai memasak segala jenis makanan mulai dari ayam goreng sampai ke masakan dari luar negeri."
"Tapi Letha gak bisa masak ma."sahut Letha.
"Letha belum bisa masak, tapi Letha sudah suka membantu mama membuat puding, membuat eskrim, membuat pizza, membuat donat, membuat bakso ikan, membuat nugget, dan banyak yang lain nya lagi. Kalau Letha rajin dan memang suka, tentu Nntinya jadi pandai juga memasak. Seperti Kak Ros."
Semyum lebar menghiasi wajah Letha.
"Jadi Kak Ros itu sebenarnya pintar ya ma."
"Nah tetapi ada satu kekurangan Kak Ros, dia cepat marah. Hmm mungkin ini yang bikin teman-teman Letha mengejek Letha. Mungkin mereka melihat Mbak Letha suka marah sama Abang Sammy kalau ikut antar Letha ke kelas Letha. Ya nggak? "
Keningnya berkerut, tapi Letha mengangguk." Iya ma. Letha suka cepat marah. "
"Nak, marah itu boleh, tapi dilihat dulu. Jangan karena hal sepele lalu Letha lngsung marah. Kalau Abang Sammy dipanggil berkali-kali gak jawab, Mbak Letha datangi
aja trus pegang tangannya. Berbicara dengan suara biasa saja, gak perlu keras-keras. Abang Sammy pasti mendengarkan."
Dan sepanjang siang dan sore tadi, Letha berbicara lembut kepada Sammy..
Malamya sih mulai teriak-teriak lagi karena sudah mulai berusaha supaya gak ngantuk hahahahahahha..
Hari ini Letha belajar hal baru, bagaimana bernegosiasi dengan ketidak sukaan. Menghadapi hal yang menyedihkan seolah tidak bisa berbuat apa-apa. Belajar mengolah satu hal dengan mengambil sudut pandang yang berbeda. Semoga Engkau kelak menjadi anak yang bijak, anakku Mbak Letha sayang..
Lucia Desy Kurniasari
Tanjungpinang, 7 Desember 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar